SAPAAN KELABU Puisi Karya Anggota Penulis Muda Tema Asing [SAMBUNG PUISI KE 1]

Penulis Muda
Salam literasi.. Salam penulis muda...
Semoga kawan-kawan semua tetap di berikan kesehatan. Dan keberkahan dalam menjalani hidup ini. Penulis Muda sebelum terus membaca artikel ini jangan lupa senyum dulu dan jangan lupa bahagia.
Sambung Puisi, adalah kegiatan menyambungkan sebaris sajak yang di ciptakan per anggota grup Penulis Muda dengan aturan yang telah di sepakati.
Okelah.. serius amat....
Agenda Sambung Puisi pertama dan perdana ini berlangsung sangat manis dan lancar. 😊 Agenda dimulai pukul 20.20 yang sebenarnya sih jam 20.00 karena kakak pemandu acara Kak Tsuraiyya Aghni sedikit ada suatu hal dan agenda Sambung Puisi dimulai tepat pukul delapan lebih dua puluh.
Agenda berlangsung di ikuti oleh tujuh puluh lebih anggota walau yang mengisi baris terindahnya hanya beberapa anggota tetapi tetap ada kesan yang sangat ternilai untuk anggota Penulis Muda.
hingga akhir agenda puisi sudah mulai tersusun begitu rapihnya. Agenda berakhir 22.20. Karya di bagikan di media sosial facebook»
Berikut adalah nama anggota yang mengisi baris terindah dalam puisi.
1. Tsuraiyya Aghni
2. Sup
3. Diah Chan Comeback
4. Nafazza Putri Potter
5. Ida Sayyida
6. Riezz Neverdown
7. Uwy Ibnu Wadlih
8. Cak Kien
9. Dwi Novitasari
10. Soe Loen Abdulmalik
11. Arek Cekalang
#Note:
*Mohon maaf jika ada salah penulisan nama: silahkan hubungi admin.
**Jika nama belum tercantum silahkan hubungi admin.
Terima kasih.
Di bawah ini adalah hasil karya Sambung Puisi anggota Penulis Muda
SAPAAN KELABU
Pagi itu..
Senyum yang indah melambai
Yang membuat tumbuhan tertatap dimuka
Tak terduga dan mengira sampai hati
Kau berlalu melewatiku yang sendiri
Semua terasa semakin asing
Tersibak tirai hati ini akan ketampananmu
Wajah yang penuh tipu
Menghanyutkanku dalam kemurahan diri ini
Akan tetapi,
Cahaya Ilahi kembali membangunkanku dari mimpi semu ini
Tak ada ketampanan yang kan abadi
Yang tersisa hanyalah hati yang rindu akan kemurahan sang Ilahi
Tapi pagi ini, semua kembali terasa asing
Hanyut meronta
Bahkan ruh seperti bukan milik jiwanya
Kau yang dulu menyapa ramah
Kini terasa berbalik arah
Semakin memperjelas bahwa perasaan ini akan punah
Tanpa sadar terpuruk dalam rengkuhan kaki langit
Memercik embun menitih memecah
Dimana percikannya?
Di mata
Basahnya kejernihan
Setengah deras aku menyindir hidup
Membujuk diri berhenti mencarimu dengan ekor mataku
Sumpah serapah kini aku seperti domba dungu
Ku tak lagi mengenalmu
Kau terasa asing bagiku
Kau berbeda dari yang dulu
Jas hitam mengangkat pesona derajatmu
Hingga binar mata menjadi kelabu
27 Oktober 2017
"Penulis Muda"
Komentar
Posting Komentar